Showing posts with label Sistem Insentif. Show all posts
Showing posts with label Sistem Insentif. Show all posts

Keuntungan Dan Kerugian Perencanaan Insentif Individual

Keuntungan Perencanaan Insentif Individual:
-Memberikan konstribusi yang cukup signifikan terhadap:
Peningkatan produktivitas
Mengurangi biaya produksi
Meningkatkan pendapatan pekerja
-Mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk supervisi langsung dalam rangka menghasilkan output yang diinginkan, dibandingkan pemberian upah berdasarkan waktu.

-Sistem pembayaran berdasarkan hasil, memungkinkan untuk mengestimasi biaya pekerja secara akurat dibandingkan jika menggunakan sistem upah berdasarkan waktu.

-Membantu mengontrol budget dan biaya yang dikeluarkan.
Kerugian Perencanaan Insentif Individual:
-Memperbesar terjadinya konflik antara pekerja yang menginginkan maksimasi output sedangkan manajer konsern pada level kualitas.
-Pekerja lebih resistan terhadap teknologi baru, karena dapat merubah standar produksi.
-Mengurangi keinginan pekerja untuk mengusulkan metode produksi baru, karena ketakutan akan menambah urutan dalam standar pekerjaan.
-Meningkatkan komplain yang terjadi terhadap perawatan alat kerja, dll yang dapat menyebabkan mereka mendapatkan insentif yang besar.
Memperbesar turnover diantara pegawai baru, dengan keengganan untuk bekerja sama dalam on-the-job training.
-Memperbesar kesalah-pahaman antara pekerja dan pihak manajemen.

SISTEM INSENTIF

Tujuan utama dari pemberian insentif adalah tidak lain untuk meningkatkan dan menjaga motivasi pekerja dalam kaitannya dengan upaya meningkatkan produktivitas kerjanya.

Beberapa faktor lain meskipun tidak lazim dipakai sebagai dasar penetapan intensif kerja, tetapi kemungkkinan akan tetap diaplikasikan, yaitu :
Pendayagunaan fasilitas kerja
Pemanfaatan sebesar besarnya material dan menekan skrap/waste
Penghematan pemakaian energi
Peningkatan kualitas output kerja dan menghindari cacat
Tata cara pembayaran upah dan insentif kerja, ada beberapa metode yang umum diaplikasikan, yaitu :
-Mooted pembayaran upah berdasarkan hasil kerja(daywork dan measured daywork).
Dengan metode ini tidak dikenak adanya pemberian insentif langsung, pekerja dibayar menurut upah dasar yang tergantung pada jam kerja dan besarnya ditentukan berdasarkan evaluasi pekerjaan dean tidak peduli efisiensi yang dicapai.
-Metode berdasarkan unit periodik yang dihasilkan(piece work incentive).
pemberian insentif dengan cara ini jelas akan memenuhi konsep “operator is bussines of himself”, pada metode ini segala sesuatunya dike,balikan pada ide dasar pembayaran upah, yaitu semua pembayaran upah operator secara langsung terkait proporsional dengan unit output kerja yang dihasilkan.
-Metode berdasarkan jam kerja standar yang dicapai(standar hour incentive).
metode ini dirasakan jauh berbeda dibandingkan dengan metode “piece work incentive” yaitu adanya jaminan kepada pekerja untuk tetap memperoleh upah dasar pada suatu tingkat output kerja tertentu dan pemberian insentif untuk performance yang bisa melampaui standar kerja tersebut. Perbedaan pokok, pada metode ini akan memberikan upah kerja berdasarkan jam kerja yang dicapai bukan pada output kerjanya.
-Metode berdasarkan prestasi kerja kelompok(group incentive).
dengan metode ini pemberian insentif akan didasarkan pada seluruh output yang dihasilkan oleh kelompok, disini output kelompok bisa diukur dengan berbagai macam cara, sebagai contoh insentif kelompok dalam hal ini bisa dibayarkan menurut jumlah output produksi yang dihasilkan kelompok.

Metode Penghitungan Upah Perangsang (Insentif)

Sistem insentif finansial
– Sistem insentif variabel – individual
-Rencana insentif untuk karyawan operasional
-Rencana insentif untuk manajer
-Sistem Sugesti
-Komisi
– Sistem insentif kelompok
-Unit keluaran kelompok (group piece rate)‏
-Rencana pembagian produksi (production-sharing plans)‏
-Rencana pembagian laba (profit-sharing plans)‏
-Pemilikan saham oleh karyawan (employee stock ownership)‏
Rencana insentif untuk karyawan operasional
– Diperlukan dua jenis data:
-Jumlah keluaran (output) rata-rata yang ditetapkan sebagai standar prestasi kerja.
-Jumlah uang yang layak dan adil bagi jumlah rata-rata hasil kerja itu.
– Biasanya ada dua katagori:
-Piece rates
-Time bonuses
– Rencana insentif operatif yang sering digunakan adalah unit keluaran langsung (straight piece work)‏

– Contoh;
Bila standar ditetapkan 50 unit per jam, tingkat upah dasar adalah Rp.500,- per jam, dan karyawan memproduksi 600 unit dalam 8 jam sehari.
Maka tingkat upah per unit adalah Rp.500,- : 50 = Rp.10,-
Penghasilan total sebesar 600 x Rp.10,- = Rp.6000,-
Bila penghasilan setiap jam dijamin tanpa memperhatikan tingkat output (8 x Rp.500,- = Rp.4000,-)‏
Penghasilan insentif dalam contoh ini adalah sebesar Rp.6000,- - Rp.4000,- = Rp.2000,-
– Time bonuses biasanya dibagi menjadi tiga:
-Waktu pengerjaan
-Waktu yang dihemat
-Waktu standar
– Sebagai contoh, bila selama 8 jam kerja sehari, seorang karyawan berhasil menyelesaikan tugas yang mempunyai waktu total standar 12 jam, maka berarti waktu pengerjaan sama dengan 8 jam; waktu yang dihemat sebesar 4 jam, dan waktu standar sama dengan 12 jam.

Metode Penghitungan Upah Perangsang (Insentif)